Wednesday, March 29, 2006

The Power of Oil

Sedikit bernostalgia. Di era 70an sampai pertengahan 80an, Indonesia menjadi salah satu negara penghasil minyak yang menikmati keuntungan dari naiknya harga minyak dunia. Hal ini terjadi karena produksi minyak melebihi konsumsi dalam negeri. Surplus inilah yang dilempar di pasaran dunia yang menghasilkan puluhan ribu SD inpres, puskesmas, jalan raya, dan tambahan ribuan guru. Salah satu kredit point era ORBA.

Sejak 2 tahun ini, harga minyak dunia meroket, namun tidak seperti sebelumnya, kali ini Indonesia menjerit. APBN sudah tidak kuat lagi menanggung biaya subsidi.Ujung-ujungnya rakyat yang harus dikorbankan, kenaikan harga BBM jalan terakhir dan teramat berat yang terpaksa diambil klo tidak ingin Indonesia jatuh dalam kebangkrutan. Surplus minyak tidak lagi terjadi, sebaliknya kebutuhan domestik yang makin meningkat tidak diimbangi dengan produksi minyak dalam negeri yang cenderung stagnan. Akibatnya untuk memenuhinya, keran impor minyak mengucur deras. Dengan adanya kenaikan harga minyak dunia, tidak heran kalau pemerintah menjerit.

Beberapa bulan terakhir, ramai dibicarakan tentang eksplorasi minyak yang biasa disebut media dengan Blok Cepu, saya sendiri cenderung menyebutnya sebagai Blok Bojonegoro :p. Karena setidaknya apa yang di sebut dengan Blok Cepu tersebut, 90% ada di wilayah Kab. Bojonegoro. Kembali ke bahasan, setelah cukup lama saling tarik ulur antara ExxonMobil dan Pertamina, dengan diwarnai penggantian Direksi Pertamina, akhirnya ExxonMobil kebagian jatah untuk menggarap sumur-sumur minyak tersebut.

Pemerintah mengklaim ini merupakan salah satu deal terbaik di industri energi tanah air. Dengan pola bagi hasil, pemerintah bisa mendapatkan sekitar 80% dari total pendapatan yang akan dihasilkan. Namun pihak-pihak yang mengusung sentimen nasinalisme, pesimis dengan apa yang diklaim oleh pemerintah. Mereka tetap bersikukuh, apapun keuntungannya, akan lebih baik kalau Pertamina yang mengelola sumur-sumur tersebut.

Persetaruan ini sarat akan nuansa politisnya. Dibutuhkan keberanian dari pemerintah untuk mengambil keputusan ini. Setidaknya, dengan dicapainya kesepakatan ini, Blok Bojonegoro yang kurang lebih 5 tahun mangkrak, akan segera di eksplorasi. Patut ditunggu dampak yang akan dirasakan oleh masyarakat sekitar. Sebenarnya tidak penting siapa yang akan mengelola, yang penting adalah kehidupan warga setempat bisa lebih baik dari sekarang. Kemiskinan yang selama ini akrab dengan mereka diharapkan tidak lagi diturunkan kepada anak cucu mereka. Asalkan saja, apa yang menjadi hak mereka benar-benar dirasakan dan dinikmati. Tidak lagi disunat atau dikebiri oleh orang-orang yang duduk di dewan yang katanya mewakili mereka.

0 Komentar:

Post a Comment

sambungkan tulisan ini:

Create a Link

<< Halaman Utama