Wednesday, April 05, 2006

Kesurupan Massal

Entah apa yang sedang menimpa bangsa ini. Luka yang ditimbulkan akibat krisi ekonomi belum sepenuhnya pulih sudah disusul bencana yang sambung menyambung tiada hentinya. Wabah terorisme yang melanda dunia tak urung berimbas ke Indonesia.Maraknya teror bom menebar ancaman terhadap situasi keamanan nasional. Belum lagi alam yang murka akibat ulah manusia sendiri. Tsunami menerjang Aceh, Nias dan Papua. Tanah longsor meluluh lantakkan sebuah daerah di Jember karena bukit yang ada tidak mampu menahan guyuran air hujan akibat gundulnya hutan.

Disaat semua itu masih menyisakan luka yang masih basah, kita dikejutkan oleh berita di berbagai daerah akan fenomena kesurupan massal. Apakah sudah sedemikian parahnya kesalahan yang kita perbuat hingga begitu banyak cobaan yang ditimpakan ke bangsa ini. Yang perlu dicermati, mayoritas dari korban kesurupan adalah sekolah-sekolah tempat mencetak anak bangsa. Tidak hanya sekolah umum, sekolah yang berbasis agama pun tidak luput dari musibah ini.

Ditinjau dari segi ilmu Psikologis, yang saya olah dari berbagai sumber, tidak ada itu yang namanya kesurupan massal, yang ada adalah histeria massal. Sebuah kondisi dimana, tidak seimbangnya sisi psikologis seseorang akibat dari tekanan hidup yang dirasa semakin berat dan tak kunjung selesai.

Sedangkan para pemerhati metafisika, menilai ini akibat dari ulah manusia yang mengusik ketenangan makhluk dari dunia lain tersebut. Ada beberapa kasus, yang menyebutkan sebelum terjadinya musibah tersebut, ada penebangan pohon yang disinyalir sebagai tempat bersemayam makhluk-makhluk halus tersebut. Yang mengakibatkan mereka marah dan melampiaskannya dengan mengganggu balik manusia yang dianggap mengusik mereka. Dari tayangan beberapa stasiun tv swata, yang merekam dialog antara "orang pintar" dengan korban kesurupan semakin menguatkan statement tersebut.

Ada lagi pendapat yang mengutarakan ini akibat dari manusia yang terlalu sombong. Mereka menyalahkan acara tv yang banyak mengeksploitasi hal-hal ghaib. Bahkan ada program yang bertajuk Pemburu Hantu, dimana makhluk halus yang sudah "menetap" dipaksa pindah dari kediamannya. Seolah-olah ini sebagai pertunjukan "perang" antara manusia dan makhluk halus.

Ada juga pendapat yang agak nyeleneh, ini adalah ulah dari para "orang pintar" yang pingin menunjukkan "kepintarannya". Mereka sengaja "mengirim" makhluk-makhluk tersebut dan disaat dia dibutuhkan dia akan tampil bak pahlawan. Dari sisi marketing hal ini akan sangat membantu menaikkan popularitasnya. Khalayak ramai menjadi tahu kapasitas dan kemampuannya dalam hal mengusir makhluk halus.

Saya sendiri cenderung berpendapat, ini semua bukanlah kebetulan semata. Ada hidden agenda yang mungkin didalangi oleh oknum-oknum yang pingin mengkondisikan Indonesia sebagai wilayah yang jauh dari kata aman dan kondusif. Tentu saja ini untuk mendeskreditan pemerintahan SBY-JK. Yang imbasnya akan berpengaruh terhadap popularitas dalam menghadapi Pemilu 2009. Terlepas dari benar tidaknya pendapat saya ini, inti dari semua ini adalah, ada kelompok-kelompok yang tidak menginginkan Indonesia bisa berdiri dengan tegak. Jumlah penduduk yang besar merupakan pasar potensial yang akan terus dimanfaatkan selama Indonesia belum bisa menyuplai sendiri. Kekayaan alam yang melimpah, yang mayoritas dikuasai asing akan coba tetap dipertahankan jangan sampai diolah sendiri oleh Indonesia. Indonesia akan dibuat sebagai bangsa yang hanya bisa menadahkan tangannya bukan mengulurkan tangan. Boleh saja Indonesia mengklaim sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat, asal hanya sebatas konstitusi.